Aku dan Dia pt. 1

 


 Seperti yang sudah dijanjikan, beginilah sosok aku kehilangan sosok dia.

Beberapa tahun lalu, saat aku pertama kali bertemu dengan dia. Aku hanyalah seorang populer diantara kawan - kawan lainnya. Sedangkan dia adalah sosok senior yang dicap sebagai pembuat masalah. Entah kebetulan atau itu memang takdir, aku dan dia ternyata berasal dari daerah yang sama. Beberapa kali berpapasan tidak membuat aku tertarik kepada sosok dia yang juga menjadi salah satu idola beberapa anak gadis di sekolah. Tapi entah bagaimana awalnya, aku dan dia menjadi akrab dan seringkali terlihat bersama.

Setelah sekian lama bersama tanpa ada ikatan, aku dan dia telah resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Aku dan dia bisa dikatakan sebagai pasangan sempurna saat itu. Keluarga pun sudah saling memberikan restu kepada sosok aku dan dia. Sosok aku yang sudah dianggap keluarga dia dan begitu juga sebaliknya. Aku merasa sangat bahagia, karena aku tahu restu keluarga adalah yang paling penting untuk sebuah hubungan. 

Tanpa hubungan sembunyi - sembunyi, aku dan dia terang - terangan menunjukkan hubungan manis nan indah kepada semua orang. Mungkin seluruh dunia tahu bagaimana hubungan aku dan dia, hubungan yang indah tanpa cacat sedikit pun. Hubungan yang sangat aku idam -idamkan sebelumnya, saling mencintai dan juga saling menghormati. Menurut aku hal itulah yang sangat penting dalam sebuah hubungan. Mencintai dan menghormati.

Sampai saat itu tiba, beberapa tahun lalu. Dia mengutarakan niat untuk mengikat hubungan dalam ikatan pernikahan. Tentu saja aku menolak, saat itu aku hanyalah seorang mahasiswi yang sedang menuntut ilmu sebagai bekal untuk masa depan dengan dia. Segala rencana yang sudah aku buat tentu saja ada dia di dalam semua rencana itu. Karena jawaban aku, aku merasa dia menjauh. Hari berganti menjadi bulan, komunikasi yang selalu lancar menjadi tidak baik. Aku yang selalu merindukan dia akhirnya berhenti mencari karena dia tak pernah membalas rindu yang aku sampaikan.

Suatu hari aku sedang menjelajahi media sosial, aku melihat seorang wanita mengunggah foto yang sangat aku kenal. Meski wanita itu menutup wajah itu dengan stiker, aku sangat mengenali wajah yang sudah sangat lama menemani aku. Hati aku merasa bersalah dan sakit. Aku berpikir bagaimana bisa dia berfoto bersama wanita lain sedangkan aku menunggu rindu untuk dibalas. Aku mencari tahu tentang wanita itu, ternyata wanita itu adalah anak dari seorang yang berpengaruh dari daerahnya. Lama sekali aku menunggu kabar dari dia tapi tidak ada satu pun kabar yang aku terima. 

Setiap hari aku memperhatikan media sosial wanita itu, aku melihat dia bersama wanita itu dalam sebuah foto maupun video dengan kondisi si wanita itu tidak memperlihatkan wajah dia. Hingga pada suatu hari si wanita mengatakan bahwa dia akan menikah. Tentu saja aku mengetahuinya melalui media sosial wanita itu. Sejak saat itu aku berusaha menghubungi dia, bahkan mencari dia untuk sekedar bertanya kenapa dia ada di setiap unggahan wanita itu. Apakah dia adalah sosok lelaki di unggahan wanita itu. Aku mencarinya sebisa mungkin tapi nihil, usaha yang aku lalukan tidak membuahkan hasil. 

Setelah beberapa hari itu, aku melihat unggahan teman - teman dia yang mengucapkan selamat atas pernikahan dia. Saat itu dunia aku hancur dan runtuh, hubungan indah dan manis yang selalu di dambakan orang - orang justru menjadi bumerang untuk aku. Semakin dalam cinta itu maka semakin dalam pula luka yang cinta itu sebabkan. Aku mendapatkan gunjingan dari beberapa orang yang memang sebelumnya sudah cemburu karena indahnya cinta aku dan dia. Aku semakin jatuh ketika aku mendapat undangan pernikahan dari dia. Entah apa yang dia pikirkan, berani - beraninya dia mengirimkan olokan untuk aku. Apakah dia berniat mempermalukan aku.

Sampai saatnya, pada hari bahagia dia bersama wanita itu. Aku hadir dengan percaya diri, bersama seorang lelaki yang tidak kalah tampan dari dia, dan dia juga tahu bahwa lelaki yang aku bawa itu sudah sangat mengagumiku sejak lama. Di sana aku disambut sangat baik oleh kakak dia. Kakak dia yang satu ini sudah mengaanggapku seperti adik kandungnya sendiri. Di sana aku merasa menang, karena semua keluarga dia menyambutku dengan sangat baik. Bahkan orang tua dia sangat bahagia ketika aku hadir. Senang sekali melihat mimik muka wanita itu yang terlihat kesal. 

Tapi bahagia dan percaya diriku itu tentu saja hanya topeng. Hati aku teriris melihat dia yang sangat aku cintai berdiri di pelaminan bersama wanita lain. Sekitar beberapa bulan aku terus - terusan menggunakan topeng palsu baik - baik saja itu. Sampai akhirnya aku benar - benar melepaskan topeng itu dan menjadi yang lebih baik. Namun, setelah aku baik - baik saja, dia kembali. Bahagia? Tentu saja, karena dia sudah sadar bahwa tidak ada yang bisa mengurusnya dan mengerti dia selain aku. Aku menang. Tapi apakah aku akan masuk ke kesalahan yang pernah aku buat. Tidak. Aku menolak dia tiga kali lebih sakit ketika dia pergi dahulu. 

Saat ini aku masih sendiri karena cerita tragis yang aku dapatkan karena sosok dia. Orang baru yang datang tentu saja sangat banyak, tapi cerita yang seharunya indah untuk aku itu tidak berjalan lama. Selalu saja sosok dia yang pergi terbawa kembali.

Satu kata yang pernah aku ucapkan untuk dia. Pilihlah satu, aku atau wanita itu.

Komentar