Aku dan Dia
Sebagaimana waktu mengajarkan untuk selalu menghormati. Aku menghargai segala bentuk dan rasa yang sudah waktu berikan. Entah itu rasa bahagia, senang, sedih, sakit bahkan rindu.
Aku menghargai rindu, tanpa rindu aku tak tahu apa itu kehilangan. Selain kematian, kehilangan terberat ialah ketika dia yang kau anggap akan menjadi milikmu seutuhnya ternyata menjadi milik orang lain seutuhnya.
Rasa kehilangan itu membawa rindu. Rindu akan saat indah bersama. Janji berdua yang sangat membuat bahagia. Janji dia yang membuatmu terbang kelangit ke tujuh. Tapi ternyata janji - janji itulah yang membuat kehilangan amat mencekam.
Melihat dia yang terlihat sangat bahagia dengan selain dirimu itu teramat menyakitkan. Entah kenapa dia bisa dengan cepat melupakan janji manis yang sudah dia sematkan. Apakah dia benar - benar bahagia?
Sesekali aku ingin bertemu dan berkata "apa melupakanku semudah itu?".
Sekian tahun menjalani waktu bersama, mengharap akan ada akhir bahagia. Ternyata tanpa kata perpisahanpun dia bisa dengan mudah menjalani hidup yang bahagia. Dan akupun seperti itu, terlihat sangat bahagia, tapi masih saja merindukan dia yang menghilang tanpa kata perpisahan.
Sebenarnya aku sempat melupakan bagaimana tragis kisah itu, tapi ketika ada seseorang baru yang ingin singgah, rinduku untuk dia semakin mendalam. Aku ingin melepas dia, tapi aku juga tak ingin. Entah sampai kapan bayang - bayang dia akan terus bersamaku.
Salahkanlah aku jika menurutmu aku terlalu berlebihan menginginkan dia. Banyak yang berkata padaku "lelaki diluar sana masih banyak dan yang lebih baik pastinya". Tapi perkataan itu percuma, aku sangat tahu kalimat itu tapi ketahuilah cinta itu buta, cinta itu tuli. Sekali cinta tetap cinta, walaupun kesalahan yang kau buat.
Nanti akan kutuliskan kenapa sosok aku kehilangan sosok dia.
Komentar
Posting Komentar